Artikel kiriman pengunjung


Dikirim pada 2012/12/04 pukul 7:28 am by: Wirayuda

Suluk Linglung Sunan Kalijogo

Sunan Kalijogo

Ilustrasi Sunan Kalijogo

Suluk Linglung Sunan Kalijogo, menurut beberapa sumber, suluk Linglung adalah wejangan Nabi Khidir kepada Kanjeng Sunan Kalijogo. Ketika itu Sunan Kalijogo akan pergi ke Mekkah , tapi Sunan Kalijogo dicegah oleh Nabi Khidir, karena bila Sunan Kalijogo pergi maka penduduk Pulau Jawa akan kembali kafir. Akhirnya Sunan Kalijogo membatalkan kepergiannnya. Inilah kutipan wejangannya:

Birahi ananireku,
aranira Allah jati.
Tanana kalih tetiga,
sapa wruha yen wus dadi,
ingsun weruh pesti nora,
ngarani namanireki

Timbullah hasrat kehendak Allah menjadikan terwujudnya dirimu; dengan adanya wujud dirimu menunjukkan akan adanya Allah dengan sesungguhnya; Allah itu tidak mungkin ada dua apalagi tiga. Siapa yang mengetahui asal muasal kejadian dirinya, saya berani memastikan bahwa orang itu tidak akan membanggakan dirinya sendiri.

Sipat jamal ta puniku,
ingkang kinen angarani,
pepakane ana ika,
akon ngarani puniki,
iya Allah angandika,
mring Muhammad kang kekasih.

Ada pun sifat jamal (sifat terpuji/bagus) itu ialah, sifat yang selalu berusaha menyebutkan, bahwa pada dasarnya adanya dirinya, karena ada yang mewujudkan adanya. Demikianlah yang difirmankan Allah kepada Nabi Muhammad yang menjadi Kekasih-Nya

Yen tanana sira iku,
ingsun tanana ngarani,
mung sira ngarani ing wang,
dene tunggal lan sireki iya Ingsun iya sira,
aranira aran mami

Kalau tidak ada dirimu, Allah tidak dikenal/disebut-sebut; Hanya dengan sebab ada kamulah yang menyebutkan keberadaan-Ku; Sehingga kelihatan seolah-olah satu dengan dirimu. Adanya Aku, Allah, menjadikan dirimu. Wujudmu menunjukkan adanya Dzatku

Tauhid hidayat sireku,
tunggal lawan Sang Hyang Widhi,
tunggal sira lawan Allah,
uga donya uga akhir,
ya rumangsana pangeran,
ya Allah ana nireki.

Tauhid hidayah yang sudah ada padamu, menyatu dengan Tuhan. Menyatu dengan Allah, baik di dunia maupun di akherat. Dan kamu merasa bahwa Allah itu ada dalam dirimu

Ruh idhofi neng sireku,
makrifat ya den arani,
uripe ingaranan Syahdat,
urip tunggil jroning urip sujud rukuk pangasonya,
rukuk pamore Hyang Widhi

Ruh idhofi ada dalam dirimu. Makrifat sebutannya. Hidupnya disebut Syahadat (kesaksian), hidup tunggal dalam hidup. Sujud rukuk sebagai penghiasnya. Rukuk berarti dekat dengan Tuhan pilihan.

Sekarat tananamu nyamur,
ja melu yen sira wedi,
lan ja melu-melu Allah,
iku aran sakaratil,
ruh idhofi mati tannana,
urip mati mati urip.

Penderitaan yang selalu menyertai menjelang ajal (sekarat) tidak terjadi padamu. Jangan takut menghadapi sakratulmaut, dan jangan ikut-ikutan takut menjelang pertemuanmu dengan Allah. Perasaan takut itulah yang disebut dengan sekarat. Ruh idhofi tak akan mati; Hidup mati, mati hidup

Liring mati sajroning ngahurip,
iya urip sajtoning pejah,
urip bae selawase,
kang mati nepsu iku,
badan dhohir ingkang nglakoni,
katampan badan kang nyata,
pamore sawujud, pagene ngrasa matiya,
Syekh Malaya (Sunan Kalijogo) den padhang sira nampani,
Wahyu prapta nugraha.

mati di dalam kehidupan. Atau sama dengan hidup dalam kematian. Ialah hidup abadi. Yang mati itu nafsunya. Lahiriah badan yang menjalani mati. Tertimpa pada jasad yang sebenarnya. Kenyataannya satu wujud. Raga sirna, sukma mukhsa. Jelasnya mengalami kematian! Syeh Malaya ( Sunan Kalijogo ), terimalah hal ini sebagai ajaranku dengan hatimu yang lapang. Anugerah berupa wahyu akan datang padamu.

Dari wejangan Nabi Khidir kepada Sunan Kalijogo, kita bisa lebih mengenal Allah swt dan seharusnya manusia tidak takut untuk menghadapi kematian. Disamping itu juga terdapat wejangan tentang bagaimana seharusnya tafakur yang disebut “mati sajroning ngahurip” dan bagaimana dalam menjalani kehidupan di dunia in

Pesan Gusdur  oleh: Eko suratno

Ngawiti ingsun nglaras syi’iran
Kelawan muji maring Pengeran
Kang paring rohmat lan kenikmatan
Rino wengine tanpo pitungan

Duh bolo konco priyo wanito
Ojo mung ngaji syareat bloko
Gur pinter ndongeng nulis lan moco
Tembe mburine bakal sengsoro

Akeh kang apal Qur’an Haditse
Seneng ngafirke marang liyane
Kafire dewe dak digatekke
Yen isih kotor ati akale

Gampang kabujuk nafsu angkoro
Ing pepaese gebyare ndunyo
Iri lan meri sugihe tonggo Mulo atine peteng lan nisto

Ayo sedulur jo nglaleake
Wajibe ngaji sak pranatane
Nggo ngandelake iman tauhide
Baguse sangu mulyo matine
Kang aran sholeh bagus atine
Kerono mapan seri ngelmune
Laku thoriqot lan ma’rifate
Ugo haqiqot manjing rasane

Al Qur’an qodim wahyu minulyo
Tanpo tinulis biso diwoco
Iku wejangan guru waskito
Den tancepake ing jero dodo

Kumantil ati lan pikiran
Mrasuk ing badan kabeh jeroan
Mu’jizat Rosul dadi pedoman
Minongko dalan manjinge iman

Kelawan Alloh Kang Moho Suci
Kudu rangkulan rino lan wengi
Di tirakati diriyadohi
Dzikir lan suluk jo nganti lali#

<><><><><><><><><><><>

Hukum Fiqih Shalat Jum’at pada Hari Raya (Idhul Adha/Idhul Fitri)
Hari Raya Idhul Adha tahun 2012 ini InsyaAllah jatuh pada hari Jum’at. Beberapa ikhwan bertanya ketika Hari Raya Idhul Adha atau Idhul Fitri jatuh pada hari Jum’at, apakah kewajiban shalat Jum’at menjadi gugur ? Apakah cukup dengan shalat ‘Ied saja tanpa melakukanshalat Jum’at ?
Permasalahan yang ditanyakan merupakan satu masalah yang menjadi perbedaan pendapat para ulama. Perbedaan ini berangkat dari perbedaan mereka dalam menshahihkan hadits dan asar seputar masalah ini dalam satu sisi, dan makna yang dimaksud olehnya dalam sisi lain.
Di antara hadits tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Nasa`I, Ibnu Majah dan Hakim dari Iyas bin Abi Ramlah asy-Syami, dia berkata : “Saya melihat Mu’awiyah bin Abi Sufyan bertanya kepada Zaid bin Arqam r.a., “Apakah ketika bersama Rasulullah saw. engkau pernah menjumpai dua hari raya bertemu dalam satu hari ?” Zaid bin Arqam menjawab: “Ya, saya pernah mengalaminya”. Mu’awiyah bertanya lagi: “Apa yang dilakukan Rasulullah saw. ketika itu ?” Dia menjawab: “Beliau melakukan shalat ‘Ied dan memberi keringanan untuk meninggalkan shalat Jum’at. Beliau bersabda, “Barang siapa ingin melakukan shalat Jum’at maka lakukanlah.”
Juga hadits riwayat Abu Hurairah r.a., dari Nabi saw., beliau bersabda: “Pada hari ini telah bertemu dua hari raya. Barang siapa tidak ingin menunaikan shalat Jum’at, maka shalat ‘Ied ini sudah menggantikannya. Sedangkan kami akan tetap menunaikan shalat Jum’at.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Hakim).
Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa pelaksanaan shalat ‘Ied tidak mengakibatkan gugurnya kewajiban shalat Jum’at. Mereka berdalil dengan keumuman dalil kewajiban shalat Jum’at untuk seluruh hari. Disamping itu shalat Jum’at dan shalat ‘Ied adalah ibadah yang masing-masing berdiri sendiri dan tidak bisa saling menggantikan. Di sisi lain hadits dan atsar tentang keringanan untuk tidak menunaikan shalat Jum’at tidaklah kuat untuk mengkhususkan hadits tentang kewajiban shalat Jum’at tersebut, karena di dalam sanadnya terdapat masalah. Ini adalah mazhab Hanafi dan Maliki.
Sedangkan Imam Ahmad berpendapat –dan ini adalah salah satu pendapat dalam Mazhab Syafi’i— bahwakewajiban shalat Jum’at menjadi gugur bagi orang yang menunaikan shalat ‘Ied, namun orang itu tetap wajib menunaikan shalat zhuhur. Hal ini juga berdasarkan hadits dan atsar yang telah disebutkan sebelumnya.
Adapun jumhur ulama –termasuk Imam Syafi’i dalam pendapatnya yang paling shahih—berpendapat wajibnya shalat Jum’at bagi orang-orang yang tinggal dalam kawasan yang di dalamnya dilaksanakan shalat Jum’at dan gugur dari orang-orang yang tinggal di daerah pedalaman yang syarat-syarat kewajiban shalat Jum’at terealisasi pada mereka. Karena mewajibkan mereka untuk menunaikan shalat Jum’at setelah shalat ‘Ied dapat menyebabkan kesulitan bagi mereka. Dalil jumhur ulama adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwatha` bahwa Utsman bin Affan r.a. berkata dalam khutbanya: “Sesungguhnya pada hari ini telah bertemu dua ‘Ied. Maka orang yang tinggal di daerah gunung jika ingin menunggu pelaksanaan shalat Jum’at maka hendaknya dia menunggu, sedangkan orang yang ingin kembali ke rumahnya maka aku telah mengizinkannya.”
Perkataan Utsman ini tidak ditentang oleh seorang sahabat pun, sehingga dianggap sebagai ijma’ sukuti. Berdasarkan penjelasan Utsman inilah jumhur ulama memahami hadits keringanan untuk tidak melaksanakan shalat Jum’at bagi orang yang telah melakuan shalat ‘Ied.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka selama masalah ini merupakan masalah khilafiyah maka ia bersifat lapang, dan tidak sepatutnya seseorang membenturkan pendapat satu mazhab dengan pendapat mazhab yang lain. Dengan demikian, shalat Jum’at tetap dilaksanakan di masjid-masjid, sebagai pengamalan terhadap hukum asalnya dan sebagai suatu kehati-hatian dalam pelaksanaan ibadah. Dan barang siapa yang kesulitan untuk menghadiri shalat Jum’at atau ingin mengambil rukhshah dengan mentaklid pendapat yang menggugurkan kewajiban shalat Jum’at karena menunaikan shalat ‘Ied, maka dia boleh melakukannya dengan syarat dia tetap melakukan shalat zhuhur sebagai ganti dari shalat Jum’at. Juga dengan tidak menyalahkan orang yang menghadiri shalat Jum’at, mengingkari orang yang menunaikannya di masjid-masjid atau memicu fitnah dalam perkara yang di dalamnya para salaf shaleh menerima adanya perbedaan pendapat.
Adapun gugurnya shalat Zhuhur karena telah dilaksanakannya shalat ‘Ied maka pendapat yang diambil oleh jumhur ulama baik dahulu maupun sekarang adalah bahwa shalat Jum’at jika gugur karena suatu rukhshah (keringanan), uzur atau terlewatkan waktunya maka harus dilaksanakan shalat Zhuhur sebagai gantinya. Sedangkan Atha’ berpendapat bahwa shalat Jum’at dan Zhuhur dianggap gugur karena telah dilaksanakannya shalat ‘Ied. Dalil yang digunakan oleh Atha’ adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, “Ibnu Zubair r.a. melaksanakan shalat ‘Ied yang jatuh pada hari Jum’at pada awal siang (pagi hari) bersama kami. Lalu kami pergi untuk melaksanakan shalat Jum’at, namun ia tidak datang. Akhirnya, kami pun melaksanakan shalat sendiri. Ketika itu Ibnu Abbas r.a. sedang berada di Thaif. Ketika ia datang, maka kami menceritakan hal itu. Beliau pun berkata: “Ia telah melaksanakan sunnah.”
Hanya saja riwayat ini tidak dapat dijadikan sebagai dalil karena memiliki kemungkinan makna yang lain. Sebuah dalil yang mengandung berbagai kemungkinan menjadi batal nilai kedalilannya. Hadits ini tidak menunjukkan bahwa Ibnu Zubair tidak melaksanakan shalat Zhuhur di rumahnya. Bahkan penjelasan Atha’ bahwa mereka melaksanakan shalat sendiri (shalat Zhuhur) mengisyaratkan bahwa tidak ada yang mengatakan bahwa shalat Zhuhur menjadi gugur. Pendapat ini mungkin dapat ditafsirkan sebagai mazhab yang berpendapat kebolehan melaksanakan shalat Jum’at sebelum tergelincir matahari (zawal). Pendapat ini diriwayatkan dari Imam Ahmad. Bahkan diriwayatkan dari Atha’ sendiri, dimana ia pernah mengatakan, “Setiap shalat ‘Ied dilaksanakan ketika telah masuk waktu Dhuha: shalat Jum’at, Iedul Adha dan Iedul Fitri.”
Penafsiran ini diperkuat oleh riwayat Wahb bin Kaysan yang diriwayatkan oleh Nasa`i: “Dua ‘Ied telah berkumpul pada masa Ibnu Zubair. Maka ia pun mengakhirkan keluar rumah hingga siang semakin tinggi. Ia lalu keluar dan berkhutbah serta memanjangkan khutbahnya. Lalu ia turun dan melaksanakan shalat lalu tidak melasakanakan shalat Jum’at bersama masyarakat.” Sebagaimana diketahui bahwa khutbah Jum’at dilaksanakan sebelum shalat, sedangkan khutbah ‘Ied dilaksanakan setelah shalat. Oleh karena itu, Abul Barakat Ibnu Taimiyah berkata, “Penjelasannya adalah bahwa ia memandang kebolehan mendahulukan shalat Jum’at sebelum tergelinciri matahari. Zubair mensegerakan shalat Jum’at dan menjadikannya sebagai pengganti shalat ‘Ied.”
Ditambah lagi bahwa syariat tidak pernah menjadikan shalat fardhu empat kali dalam keadaan apapun, bahkan dalam keadaan sakit parah atau di tengah-tengah pertempuran. Shalat fardhu tetap dilaksanakan lima kali sebagaimana ditetapkan dalam dalil-dalil qath’i, seperti sabda Rasulullah saw. kepada seorang Arab badui yang bertanya tentang kewajiban Islam,
خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ
“Lima shalat dalam sehari semalam.” (Muttafaq alaih dari hadits Thalhah bin Ubaidillah r.a.).
Nabi saw. juga pernah bersabda kepada Muadz bin Jabal r.a. ketika mengutusnya ke Yaman,
فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِيْ كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ
“Beritahulah mereka bahwa Allah ‘azza wa jalla mewajibkan mereka melakukan shalat lima kali dalam sehari semalam.” (Muttafaq alaih dari hadits Ibnu Abbas r.a.).
Rasulullah saw. juga bersabda,
خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللهُ عَلَى الْعِبَادِ
“Lima shalat yang diwajibkan Allah kepada para hamba-Nya.” (HR.Malik, Abu Dawud, Nasa`i dari hadits Ubadah bin Shamit r.a.).
Dan masih banyak lagi dalil yang menjelaskan mengenai hal ini. Jika shalat fardhu tidak dapat gugur dengan melaksanakan shalat fardhu lainnya, maka bagaimana mungkin dapat gugur dengan melaksanakan shalat ‘Ied yang hukumnya hanyalah fardhu kifayah dalam skala komunitas dan sunah dalam sekala pribadi?
Syariat Islam telah mewajibkan shalat lima waktu ini dalam keadaan, tempat, person dan keadaan apapun, kecuali yang dikecualikan seperti wanita haid dan nifas. Bahkan, ketika Nabi saw. menjelaskan lama hidup Dajjal di dunia, beliau bersabda,
أَرْبَعُوْنَ يَوْماً، يَوْمٌ كَسَنَةٍ، وَيَوْمٌ كَشَهْرٍ، وَيَوْمٌ كَجُمُعَةٍ، وَسَاِئُر أَيَّامِهِ كَأَيَّامِكُمْ
“Empat puluh hari. Satu hari seperti setahun, satu hari seperti sebulan dan satu hari seperti satu jum’at. Sisa hari-harinya seperti hari-hari kalian.”
Para sahabat bertanya: “Pada hari yang seperti setahun itu, apakah kita cukup melaksanakan shalat satu hari saja?” Beliau menjawab: “Tidak. Tapi perkirakan kadar waktu-waktu shalat itu.” (HR. Muslim).
Ini adalah nash bahwa shalat fardhu tidak dapat gugur pada keadaan atau waktu apapun.
Dengan demikian, pendapat yang menyatakan bahwa shalat Jum’at dan Zhuhur menjadi gugur dengan melaksanakan shalat ‘Ied adalah tidak dapat dipegangi karena kelemahan dalilnya dalam satu sisi dan karena ketidakpastian penisbatan pendapat ini kepada ulama yang mengatakannya.

Sumber : Darul Ifta’
Jawaban Dari Mufti Agung Prof. Dr. Ali Jum’

Sebuah Cerita tentang Bid’ah di Dusun Kami
Kang Hanif, seorang anggota Ansor, telah lama didaulat masyarakat di desa untuk memangku masjid. Semua acara keagamaan dia yang memimpin. Suatu hari ada seorang berjenggot panjang dan bercelana cingkrang dari sebelah desa menudingnya sebagai pelaku bid’ah, churafat, takhayul, bahkan syirik.

“Mas, sampean jangan terus-terusan menyesatkan umat. Tahlilan, sholawatan, yasinan, manaqiban, bermaaf-maafan sebelum memasuki Ramadhan, itu bid’ah. Apalagi mendoakan mayit, tawasul atau ngirim pahala untuk orang sudah mati. Doa itu tidak sampai, bahkan merusak iman. Musyrik hukumnya,” kata orang tersebut dengan gaya sok paling Islam dan paling benar.

Kang Hanif hanya diam saja. Ia sudah beberapa kali menghadapi orang begitu yang biasanya hanya bermodal “ngeyel” dengan ilmu agama yg jauh dari memadai. Persis seperti anak kecil baru belajar karate, yang baru tahu satu dua jurus saja lagak lakunya belagu.

Walau kang Hanif telah 9 tahun mengaji di pesantren Tambak Beras dan paham betul dasar-dasar amaliyah itu, ia tetap tak membantah dan membiarkan orang itu terus menudingnya. “Percuma saja membantah orang itu. Hatinya tertutup jenggotnya. Mata hatinya tak seterbuka mata kakinya,” batin kang Hanif.

Beberapa waktu kemudian ayah orang yang berjenggot dan bercelana cingkrang itu meninggal dunia. Kang Hanif datang bertakziyah bersama para jamaahnya. Dia lantas berdoa keras di depan mayit si bapak dan jama’ahnya mengamini.

“Ya Allah, laknatlah mayit ini. Jangan ampuni dosanya. Siksalah dia sepedih-pedihnya. Kumpulkan dia bersama Fir’aun, Qorun dan orang yg Engkau laknati. Masukkan dia di neraka sedalam-dalamnya, selama-lamanya”.

Si jenggot bercelana cingkrang menghampiri Kang Hanif, bermaksud menghentikan doanya.

“Jangan protes. Katamu doa kepada mayit tidak akan sampai. Santai saja. Tidak ada yg perlu engkau khawatirkan bukan? Kalau aku sih yakin doaku sampai,” ujar kang Hanif tenang.

Muka si jenggot bercelana cingkrang pucat. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya yang biasa menghakimi orang lain

9 Responses

  1. Para pemabaca yang budiman klo punya artikel mohon diinsert coment,dan akan disortir yang layak diupdate

  2. Sunan Bonang
    Berdakwah dengan Tembang ‘Tombo Ati’

    Tombo ati iku limo perkorone
    Kaping pisan moco Quran lan maknane
    Kaping pindho sholat wengi lakonono
    Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
    Kaping papat weteng iro ingkang luwe
    Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe
    Salah sawijine sopo biso ngelakoni
    Mugi-mugi Gusti Allah nyembadani

    Obat hati ada lime perkaranya
    Yang pertama baca Quran dan maknanya
    Yang kedua sholat malam dirikanlah
    Yang ketiga berkumpullah dengan orang sholeh
    Yang keempat perbanyaklah berpuasa
    Yang kelima dzikir malam perpanjanglah
    Salah satunya, siapa bisa menjalani Moga-moga Gusti Allah mencukupi

  3. Renungan Dari Seorang WaliyuLLah,..Al- IMAM GHAZALI
    Oleh Asma Wijaya

    *Yang Paling dekat dengan diri kita di dunia, yaitu kematian liaht (QS Ali Imran:185)

    *Yang Paling Jauh dengan diri kita di dunia, yaitu Masa Lalu,..Bagaimanapun keadaan
    kita saat ini, apapun keadaan kita, tetap kita tidak akan kembali ke masa Lalu..

    *Yang Paling besar di Dunia, yaitu HAWA NAFSU ( Lihat QS Al-A’raf:179),..maka kita
    harus hati2 dengan Nafsu kita.

    *Yang Paling Berat di Dunia ini, yaitu MEMEGANG DAN MENJAGA AMANAH ( Lihat
    QS:Al-Ahzab:72)..

    *Yang Paling Ringan di Dunia ini, yaitu MENINGGALKAN IBADAH SHOLAT

    *Yang Paling Tajam di Dunia ini, yaitu LIDAH MANUSIA. Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri serta mengkhianatinya.

    Thank’s for All

  4. Syekh Abu Bakar Asy-Syibly
    Posted Oleh Asma Wijaya Villa Balaraja Rt.09

    Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Dulaf ibnu Jasdar Asy-Syibly, beliau dilahirkan di Surraman pada tahun 247 H. Beliau dilahirkan dari keluarga pejabat yang dihormati oleh masyarakat. Beliau mendapat julukan “Asy-Syibly” karena beliau dilahirkan di Syiblah yaitu daerah Khurasan.

    Asy-Syibly menempuh pendidikannya dengan baik sejak kecil hingga dewasa, sehingga beliau dapat menguasai ilmu Agama dan menguasai ilmu fiqih dan mempelajari ilmu Hadits kepada para ahlinya. Selama dua puluh tahun beliau menempuh pendidikan tersebut kepada para ulama’ terkenal dan tokoh sufi.

    Setelah Asy-Syibly mengakhiri kehidupannya sebagai pejabat pemerintahan, beliau memulai membuka lembaran hidup baru dengan menndalami ajaran sufi sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Al-Junaid. Asy-Syibly mendalami ilmu Fiqih dan Tasawuf, beliau belajar berguru kepada Al-Junaid, lebih dulu Asy-Syibly pernah bergabung dengan kelompok diskusi Khair An-Nassaj dan dari kelompok inilah kemudian beliau mendapat saran untuk belajar kepada Syekh Junaid Al-Baghdady, bimbingan yang diberikan oleh Al-Junaid kepada Asy-Syibly diantaranya adalah :

    Memantapkan kesabaran dan kejujuran dengan usaha berdagang.
    Memantapkan hakikat diri dihadapan manusia dan menumbuhkan ketergantungan kepada Allah Swt,

    Kedua bimbingan dan intruksi yang diberikan oleh Al-Junaid dapat dilaksanakan dengan baik oleh Asy-Syibly dan akhirnya Asy-Syibly menjadi Murid Syech Al-Junaidy. Setelah Asy-Syibly menerima bimbingan dari Al-Junaidy, Asy-Syibly hidup dengan penuh disiplin dan sebagai seorang sufi beliau hidup sampai menggapai Zuhud, Wara’, Taqwa dan disertai dengan pandangan sufi yang teguh dalam menghadapi dan memecahkan berbagai macam persoalan yang dihadapi.

    Pokok pikiran Asy-Syibly, diantaranya ialah sebagai berikut :

    Seorang sufi adalah semata-mata memfokuskan diri semata-mata kepada Allah Swt, dengan akhlak ketuhanan, dengan hati yang bersih, dengan gerakan-gerakan hati yang setia dan dengan usaha kedermawanan. Dengan kata lain, seorang sufi harus hidup sederhana dengan keadaan yang sempurna untuk menuju ke maha sempurna.
    Asy-Syibly mengatakan, “Tasawuf adalah duduk bersama Allah swt. tanpa hasrat.” Dikatakan, “Sufi adalah orang yang mengisyaratkan dari Allah swt, sedangkan manusia mengisyaratkan kepada Allah Swt.” Asy-Syibly mengatakan, “Sufi terpisah dari manusia dan bersambung dengan Allah swt. sebagaimana difirmankan Allah swt. kepada Musa,’Dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku’ (Q.s. Thaha: 41), dan memisahkannya dari yang lain. Kemudian Allah swt. berfirman kepadanya, “Engkau tidak akan bisa melihat-Ku”. Asy-Syibly juga mengatakan, “Para Sufi adalah anak-anak di pangkuan Tuhan Al-Haq.” Katanya, “Tasawuf adalah kilat yang menyala,” dan, “Tasawuf terlindung dari memandang makhluk.”
    Asy-Syibly ditanya, “Mengapa para Sufi itu disebut Sufi?” Dia menjawab, “Hal itu karena adanya sesuatu yang membekas pada jiwa mereka. Jika bukan demikian halnya, niscaya tidak akan ada nama yang dilekatkan pada mereka.”

    Dimana beliau termasuk pembesar para sufi dan para ‘Arif billah. Beliau berkata di dalam munajatnya :
    Wahai Tuhanku…
    Sesungguhnya aku senang
    Untuk mempersembahkan kepadaMu semua kebaikanku
    Sementara aku sangat faqir dan lemah
    Oleh karena itu wahai Tuhanku,
    Bagaimana Engkau tidak senang
    Untuk memberi ampunan kepadaku atas segala kesalahanku
    Sementara Engkau Maha Kaya
    Karena sesungguhnya keburukanku tidak akan membahayakanMu
    Dan kebaikanku tidaklah memberi manfaat bagiMu

    Dan sesungguhnya sebagian orang yang mulia telah memberikan ijazah agar dibaca 7 kali setelah melaksanakan shalat Jum’at dari bait syair sebagai berikut :
    Ilahy lastu lil firdausi ahla # Walaa aqway ‘ala naaril jahiimi
    Fahably zallaty wahfir dzunuuby # Fa innaka ghaafirul dzanbil ‘adziimi
    Wa ‘aamilny mu’aamalatal kariimi # Watsabbitny ‘alan nahjil qawwimi

    (Hikayat) Sesungguhnya Syaikh Abu Bakr As-Syibly datang kepada Ibnu Mujaahid. Maka segeralah Ibnu Mujaahid mendekati As-Syibly dan mencium tempat diantara kedua mata beliau. Maka ditanyakanlah kepada Ibnu Mujaahid akan perbuatannya yang demikian, dan beliau berkata, “Sesungguhnya aku melihat Rasulullah SAW didalam tidur dan sungguh beliau SAW telah mencium As-Syibly. Ketika itu berdirilah Nabi SAW di depan as-Syibly dan beliau mencium antara kedua mata As-Syibly”. Maka aku bertanya, “Yaa RasuluLlah, apakah benar engkau berbuat yang demikian terhadap As-Syibly ?”. RasuluLlah SAW menjawab, “Benar”, sesungguhnya dia tidak sekali-kali mengerjakan shalat fardhu melainkan setelah itu membaca : “Laqad jaa akum Rasuulum min anfusikum ‘aziizun ‘alaiHi maa ‘anittum chariisun ‘alaikum bil mukminiinarra’uufurrahiim faintawallau faqul chasbiyaLlaahu laaIlaaha Illa Huwa ‘alaiHi tawakkaltu waHuwa Rabbul ‘Arsyil ‘adziim…”. setelah itu dia (As-Syibly) mengucapkan salam ShallaLlaahu ‘alaika Yaa Muhammad”. Kemudian aku tanyakan kepada As-Syibli mengenai apa yang dibacanya setelah shalat fardhu, maka beliau menjawab seperti bacaan tadi.

    Telah berkata Asy-syibly, “Apabila engkau menginginkan ketenangan bersama Allah, maka bercerailah dengan nafsumu.” Artinya tidak menuruti apa yang menjadi keinginannya. Telah ditanyakan keadaan Asy-Syibly di dalam mimpi setelah beliau wafat, maka beliau menjawab, “Allah Ta’ala berfirman kepadaku,”Apakah engkau mengetahui dengan sebab apa Aku mengampunimu ?”
    Maka aku menjawab, “Dengan amal baikku”.
    Allah Ta’ala berfirman,”Tidak”.
    Aku menjawab, “Dengan ikhlas dalam ubudiyahku”.
    Allah Ta’ala berfirman, “Tidak”.
    Aku menjawab,”Dengan hajiku dan puasaku ?”
    Allah Ta’ala berfirman, “Tidak”.
    Aku menjawab, “Dengan hijrahku mengunjungi orang-orang shaleh untuk mencari ilmu“.
    Allah Ta’ala berfirman,”Tidak”.
    Akupun bertanya, “Wahai Tuhanku, kalau begitu dengan apa ?“
    Allah Ta’ala menjawab, “Apakah engkau ingat ketika engkau berjalan di Baghdad kemudian engkau mendapati seekor anak kucing yang masih kecil dan lemah karena kedinginan, dan ia emnggigil karenanya. Kemudian engkau mengambilnya karena rasa kasihan kepada anak kucing itu dan engkau hangatkan ia ?”
    Aku menjawab, “Ya”.
    Maka berfirmanlah Allah Ta’ala, “Dengan kasih sayangmu kepada anak kucing yang masih kecil itulah Aku menyayangimu”.

    Asy-Syibli hidup hingga usia 87 tahun dan wafat pada tahun 334 H dimakamkan di Baghdad.

  5. Tidak jemu aku mengenalkan
    syair tentang NU….. monggo
    dinikmati..

    simbul NU gambaare jagad
    dikupeng tampar kangge
    mengikat

    bintange songo kabeh
    mengkilat
    sing dukur limo sing isor
    papat

    bintang kang dukur kanjeng
    Nabi
    kiwo tengene shohabat Nabi
    Abu bakar kekasih Nabi
    ‘umar, ‘Usman sayyidina “ali

    bintang kang ngisoor imam
    Hanafi
    kapindone imam Maliki
    kaping telu Imam syaafi’i
    kaping pate imam hambali

    romoku NU
    ibukku muslimat
    kakangku Anshor
    mbakyuku fatayat
    melu NU soyo nikmat

  6. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari disebutkan “Innama al-a’mal bi al-niyat” : Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya. Hadis ini sangat populer dikalangan muslim. Tanpa sebuah niat maka nilai sebuah perbuatan akan berbeda. Contohnya berwudhu, bila tanpa disertai niat wudhu maka yang dilakukan sama saja dengan membasahi bagian tubuh dengan air seperti halnya mandi atau basah karena tercebur disungai atau basah karena kehujanan.

    Sunan Bonang pernah memberikan wejangan tentang niat kepada para muridnya. Termasuk kepada Sunan Kalijaga. Bunyinya :

    Heh ra Wujil niyat iku luwih
    saking amale ponang akathah
    nora basa awata reke
    niyating pingil iku
    kang gumelar nyananireki
    sajatine kang niyat
    nora niyatipun
    niyating pingil gumelar
    niyating sembahyang nora bedaneki
    lan niyat ambebegal.

    Artinya : “Hei Wujil, niat itu lebih utama dari amalan yang banyak. Niat itu bukan bahasa maupun suara. Niat itu untuk melakukan tindakan yang ada di dalam pikiran. Sesungguhnya yang disebut niat itu bukan pada niatnya, tetapi niat untuk melakukan tindakan yang terungkap. Kalau hanya niat, maka niat sembahyang tiada bedanya dengan niat merampok.”

    Maka yang dimaksud dengan niat itu adalah kehendak untuk melakukan sesuatu. Merupakan dorongan untuk melakukan atau mengerjakan sesuatu. Karena itu niat bukan berupa bahasa atau suara. Artinya niat bukan hanya sebatas ucapan, baik itu ucapan dimulut atau dalam hati. Kalau hanya sebatas ucapan dimulut atau dalam hati, maka itu sama saja antara mengucapkan niat bersembahyang maupun merampok. Niat yang demikian, jelas tidak lebih utama daripada perbuatan.

    Niat adalah sebuah tekad. Bilamana anda hendak melakukan sembahyang, sholat atau akan menjalankan ritual puasa, niat memiliki peran yang penting. Bukan sekedar menghafal dan mengucapkan lafal kalimat niat yang berbunyi seperti ini-seperti itu. Bukan seperti itu yang dimaksud dengan niat. Tetapi niat adalah sebuah kehendak untuk melakukan sesuatu yang sudah digagas dalam pikiran. Niat yang sudah direncanakan dan dimantapkan dalam pikiran. Kemudian diwujudkan dalam tindakan amal perbuatan sesuai dengan gagasan yang telah direncanakan.

    Misalnya anda telah berniat ritual puasa Mutih 3 hari 3 malam, maka penuhi ritual tersebut atau gagal sama sekali. Tidak bisa ditengah-tengah kemudian bebas makan apa saja (diluar Mutih) dengan berdalih berbagai alasan, kemudian mengatakan telah melakukan ritual Mutih. Maka bilamana memang belum sanggup, maka tata kembali niatnya.

    Adapun tentang lafal niat, itu hanya untuk mempermudah saja. Bukan sesuatu yang mutlak harus demikian bunyinya. Boleh saja memakai bahasa apa saja, bahkan hanya sebatas ucapan dalam hati. Sebab inti niat bukan pada lafalnya. Maka jangan terjebak dan dipusingkan dengan lafal niat. Nanti malah tidak segera beramal / bertindak, hanya sibuk mikir lafal niat.

    Niat disebut lebih penting daripada amalan yang banyak, bila niat itu merupakan kehendak untuk melakukan sesuatu yang sudah digagas dalam pikiran. Niat semacam inilah yang membedakan perbuatan bajik dan perbuatan jahat. Niat semacam inilah yang disebut dalam hadis : “Niyyatu al-mu’mini khairun min ‘amalihi” : Niat seorang mukmin lebih baik dari amalnya.

    Dalam memahami hadis tersebut ada 2 syarat yang harus ada. Yaitu Niat dan Amal. Karena ada juga orang yang salah memahami dan berkata “Kalau begitu lebih baik berniat saja, tidak perlu beramal (berbuat)“. Padahal hadist ini jelas dinyatakan ada amal, ada tindakan. Contoh ada 2 orang yang bersedekah. Orang pertama seorang pegawai biasa berpenghasilan 500 ribu perbulan. Orang kedua seorang Milyader berpenghasilan 1 Milyar perbulan. Keduanya bersedekah, orang pertama bersedekah 10 ribu, sedang sang kaya / Milyader bersedekah 100 ribu.

    Jika dilihat dari segi banyaknya uang, tentu amalan si kaya akan lebih besar nilainya daripada si pegawai biasa. Tetapi bila dilihat dari segi niat, mungkin saja nilai di sisi Tuhan yang diperoleh si pegawai lebih banyak dari pada si kaya. Sebab si pegawai memberikan uang sisa yang ada pada dirinya setelah dipotong untuk memenuhi bermacam-macam kebutuhan hidupnya ia masih berusaha menyisakan uang untuk bersedekah. Sedangkan si kaya hanya memberikan 1/10.000 dari lebihan uang dimilikinya. Niat si pegawai bersedekah dengan segenap yang dimilikinya, sedangkan si kaya hanya menolong dari sebagian kecil yang dimilikinya. Dengan memahami kenyataan demikian ini, kita paham bahwa niat lebih utama daripada amalan (perbuatan).

    Demikian pula dalam menjalankan ritual puasa. Sebagaimana pernah saya contohkan, ada 2 orang yang dikurung dalam tempat yang gelap. Orang yang pertama adalah seorang narapidana yang masukan dalam sel penjara yang sangat gelap dan tidak diberi makan 1 minggu. Sedangkan orang kedua adalah seorang pertapa (yogi) yang ritual mengurung diri di ruangan gelap atau goa (ritual patigeni), juga tidak makan-minum selama 1 minggu. Keduanya sama-sama menjalani kondisi yang sama, tidak makan-minum dan berada di tempat yang gelap. Tetapi hasil yang dirasakan oleh kedua orang tersebut bisa berbeda. Mungkin si narapidana setelah keluar dari sel tersebut kondisi dirinya semakin payah dan mungkin sudah sekarat. Sedangkan si pertapa, meski badannya lemah tetapi pancaran hidupnya (aura) semakin tajam dan sakti.

    Niat dalam sebuah amal perbuatan (tindakan) memang memiliki peran yang besar. Tanpa sebuah niat, apa yang anda lakukan selama berpuasa (tidak makan-minum), sama saja dengan orang tidak makan-minum karena kelaparan. Tanpa sebuah niat, apa yang anda lakukan selama ritual tidak tidur (melek) akan sama saja dengan begadang saat bermain judi atau bermain. Tanpa sebuah niat, amal perbuatan bisa jadi tidak bernilai, tiada memberi faedah (khasiat), hanya membuahkan sia-sia. Tentunya niat bukan sekedar niat. Tetapi wujud nyata dari kehendak pikiran dan hati.

    Pahamilah wejangan Sunan Bonang dalam suluk Wujil diatas dengan baik, semoga ada manfaatnya.

    *RasaSejati*

  7. 10 JURUS AMPUH WARISAN RASULULLAH

    Manusia selalu berusaha dengan berbagai macam cara untuk melindungi dirinya dari ganguan dan kejahatan orang lain. Banyak cara yang di tempuh dan jalan yang di lalui untuk tujuan ini.

    Sejak zaman dahulu dalam dunia persilatan telah kita dengar berbagai macam nama ilmu kesaktian. Kalau dulu anda pernah mengikuti sandiwara Saur sepuh tentu anda akan kenal pada Ajian serat jiwa dan Lampah umpuh ilmu pamungkas raja Madangkara Brama kumbara

    Di zaman rudal dan senjata muttakhir sekarang ini pun masih banyak orang yang mengejar ilmu kesaktian semacam ini, dengan berbagai macam tujuan dan alasan. Untuk menjaga diri, agar tekenal sebagai jawara, atau mungkin seorang ustadz atau dai’ mempelajarinya agar da’waknya lancar karena dapat mengalahkan atau paling tidak melindungin diri dari kejahatan orang yang tidak senang pada kebaikan.

    Perlu juga kita ketahui, ilmu kadikjayaan ini ada dua sumber yang berbeda, biasa dikenal dengan sebutan ilmu hitam dan ilmu putih. Ilmu putih adalah kesaktian yang diperoleh dengan amalan tertentu yang tidak bertentangan dengan syariat islam, sedangkang ilmu hitam adalah kebalikannya kesaktian itu diperoleh dengan malakukan suatu amalan yang dilarang Allah. Dalam tulisan ini saya ingin menujukkan kepada pembaca pada suatu kesaktian luar biasa sangat penting untuk kita miliki, hususnya yang berkecimpung dalam dunia da’wah.
    Ilmu ini adalah ilmu kebal yang diajarkan dan diwariskan Rasulullah SAW kepada sahabat-sahabatnya.

    Yang saya maksud dengan ilmu kebal disini bukan kita tidak mempan disabet pedang, atau tidak bisa ditembus oleh peluru. Ilmu kebal tingkat tinggi yang diajarkan Rasulullah SAW adalah kekebalan hati. Orang yang menguasai ilmu ini tidak akan mudah sakit hati, tidak gampang tersulut kemarahannya, tidak gampang termakan hasutan orang, jauh dari dengki dan hasud sehingga hidupnya terasa benar-benar tentram. Rasulullah sangat pemaaf, tidak mudah merasa sakit hati walaupun diperlakukan dengan perbuatan yang sangat menyakitkan sekalipun. Beliau dicaci dihina disakiti tetapi dengan mudahnya beliau melupakan itu semua.

    Diriwayatkan bahwa Rasulullah setiap kali pulang dari masjid Beliau diludahi oleh seorang kafir, suatu hari Raulullah SAW tidak mendapati orang tersebut, ketika Rasulullah mengetahui orang itu ternyata sakit beliau bergegas untuk menjenguknya, dan sebab itulah orang tersebut masuk islam. Dalam perjalanan da’wah ke Thaif pun tidak kalah pedihnya cobaan yang Rasulullah SAW hadapi, Rasulullah SAW ditolak oleh pemimpin Tsaqiif bahkan beliau dilempari batu oleh budak-budak dan orang-orang bodoh dari mereka sehingga kedua kakinya berlumuran darah. Ketika malaikat Jibril menawarkan untuk membinasakan mereka Rasulullah SAW menolak bahkan Rasulullah SAW mendoakan mereka agar mendapat pengampunan Allah.

    Bukankah kita sering kali merasa sakit hati, tersinggung dan kecewa hanya karena hal sepele? Keadaan seperti ini membuat kita mudah marah, menyimpan kebencian dan dendam pada orang yang ada disekitar kita. Padahal perasaan seperti itu kalau dibiarkan akan mengganggu kesehatan jasmani juga, seperti penyakit darah tinggi, jantung da lain-lain. kalau begitu kiranya anda sangat perlu untuk mendalami jurus- jurus sakti ini. Apakah sepuluh jurus itu, dan bagaimana kita mengusainya? Jurus-jurus itu adalah ayat-ayat al-quran dan hadis-hadis Rasulullah SAW. Cara mendapatkan kekebalan itu adalah dengan memahami, menghayati dan berusaha mencontoh rasulullah SAW dalam mengamalkannya. Orang yang dapat mengusai jurus-jurus ini dengan sempurna bukan saja ia akan sakti di dunia, namun diakhiratpun dia dianggap sebagai jawara yang telah dapat mengalahkan hawa nafsunya. Ia akan mendapat pahala yang besar dan kemulian ari Allah SWT.

    Jurus pertama : Menahan Marah

    Jurus ini mengingatkan kita untuk dapat menahan amarah. Allah berfirman:
    وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

    Artinya : Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan( kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang- orang yang berbat kebajikan.(Ali Imran: 134)

    Jurus kedua : Akhlaq Paling Utama

    Jurus ini mengingatkan kita untuk dapat meraih ahlaq paing utama. Rasulullah SAW bersabda :
    قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : يا عقبة ألا أخبرك بأفضل أخلاق أهل الدنيا وأهل الآخرة تصل من قطعك وتعطى من حرمك وتعفو عمن ظلمك . جامع الأحاديث – (ج 37 / ص 309)

    Artinya : Wahai Uqbah tidakkah aku memberitahumu akan ahlaq paling utama bagi penghuni dunia dan akhirat ? Engkau menyambung hubungan terhadap orang yang memutus hubungan denganmu, engkau memberi orang yang tidak mau memberimu, dan engkau memaafkan orang yang mendzalimimu. (jami’ul hadis juz 37, hal : 309)
    Jurus ketiga : Memaafkan

    Jurus ini mengingatkan kita untuk mudah memafkan.
    فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ [الحجر/85]

    Artinya : Maka maafkanlah dengan cara yang baik.(QS: Al-Hijr: 85)

    Jurus keempat : Ampunan Allah

    Jurus ini mengingatkan kita agar mendapat ampunan Allah.

    وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ [النور/22

    Artinya : dan hendaklah mereka memafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah megampunimu? Dan Allah Maha pengampun lagi maha Penyayang.(QS: An-Nur: 22)

    Jurus kelima: Sabar

    Jurus ini mengingatkan kita agar bersifat sabar. Allah berfirman :
    وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ [الشورى/43

    Artinya: Barang siapa yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia. (QS: As- Syuraa: 43)
    Jurus keenam : Wasiat Nabi

    Jurus ini mengingatkan kita pada sebuah wasiat Baginda nabi SAW. Rasulullah SAW bersabda :

    عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رجلا قال للنبي صلى الله عليه وسلم : أوصني قال : لا تغضب ، فردد مرارا فقال لا تغضب . رواه البخاري

    Artinya : Dari Abu Hurairah ra. Bahwa ada seorang berkata kepada Nabi SAW : “Berilah aku wasiat” Nabi berkata : “Janganlah egkau marah”. Orang itu mengulagi berkali-kali permintaannya, nabipun berkata : “janganlah engkau marah”. HR. Imam Buhori.

    Jurus ketujuh : Lemah lembut

    Jurus ini mengingatkan kita akan kehebatan sikap lemah lembut. Rasulullah SAW bersabda :
    عن عائشة رضي الله عنها قالت : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه ولا ينزع من شيء إلا شانه . رواه مسلم

    Artinya : dari Sayyidah A’isyah ra. Ia berkata: rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya lemah lembut tidaklah berada pada suatu apapun kecuali akan menhiasinya, dan tidaklah dicabut sifat lemah lembut itu dari sesuatu kecuali akan menjadikannya buruk. HR. Imam Muslim.

    Jurus kedelapan : Kekuatan inti

    Jurus ini mengingatkan kita bahwa kekuatan yang sesungguhnya adalah menahan amarah. Rasulullah SAW bersabda :
    عن أبي هريرة رضي الله عنه قال ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ليس الشديد بالصرعة ، إنما الشديد الذي يملك نفسه عند الغضب . متفق عليه

    Artinya : dari Abu Hurairah ra. Bahwa rAsulullah SAW bersabda: Tidaklah kekuatan itu dengan menag dalam bergulat, akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan amarahnya ketika ia marah. HR. Imam Bukhari Muslim.

    Jurus kesembilan : Ihtimalul adza

    Jurus ini mengingatkan kita bahwa ihtimalul adza (bersabar atas keburukan orang) adalah pembuka pertolongan Allah. Rasulullah SAW bersabda :
    عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : أن رجلا قال يا رسول الله ، إن لي قرابة أصلهم ويقطعونني ، وأحسن إليهم ويسيئون إلي ، وأحلمعنهم ويجهلون علي ، فقال : لئن كنت كما قلت كأنما تسفهم المل ، ولا يزال معك من الله ظهير عليهم ما دمت على ذلك . رواه مسلم

    Dari Abu Hurairah ra. Bahwa seorang berkata kepada rasulullah SAW: “Sesungguhnya aku mempunyai kerabat, aku selalu menyambung hubungan baik dengan mereka tetapi mereka selalu memutuskannya, aku berbuat baik akan tetapi mereka membalasnya dengan keburukan, aku berlaku bijak akan tetapi mereka berlaku bodoh. Rasulullah SAW kemudian bersabda: Bila keadaannya seperti yang engkau katakan, mereka itu seperti meminum abu yang panas, dan senantiasa Allah akan memberikan pertolongan kepadamu selama kamu dalam keadaan demikian itu. ( HR Imam Muslim)

    Jurus kesepuluh : Do’a pamungkas

    Mendoakan orang yang mendholimi dan menyakiti kita dengan doa yang baik adalah suatu yang luar bisa, seperti yang dilakukan rasulullah SAW terhadap penduduk Taif. Orang tidak akan dapat mendoakan orang yang menyakitinya dengan doa’ yang baik kecuali orang yang berhati mulia, dan itulah salah satu cirri-ciri penghuni surga.

    Itulah KESEPULUH JURUS KEKEBALAN tersebut, jikalau anda tidak setuju dengan penamaannya dengan judul diatas, silahkan anda memeberinya nama dengan nama apa saja yang anda sukai tapi saya yakin andapun sependapat dengan saya inilah akhlaq yang diajarkan rasulullah SAW untuk melatih kekuatan hati.

    Hafalkanlah kesepuluh jurus ini dengan baik pahami dan hayati ma’nanya dalam-dalam. Cobalah disaat anda merasa disakiti orang, hadirkan jurus-jurus ini satu demi satu, ajak hati anda untuk memahami menghayatidan membayangkan keagungan Ahlaq Rasulullah SAW, katakan pada hati anda bahwa Rasulullah SAW adalah suri tauladan bagi orang yang menginginkan kebahagiaan dunia dan akhirat yang dijanjikan Allah. Semoga dengan demikian kita tidak akan mudah merasa sakit hati.

    Selamat mencoba…!

    *tanbihun*

  8. Uang Kondangan untuk Anak atau Orang Tua

    Uang Kondangan untuk Anak atau Orang Tua

    Istilah Kondangan memiliki makna beragam. Sebagian memahaminya sebagai selametan atau kenduri seperti pemahaman orang Jawa. Sebagian lain memahaminya sebagai bagian tak terpisahkan dari pesta perkawianan atau khitanan. Kondangan sering diartikan dengan menghadiri undangan walimatul urusy (perkawinan) atau walimatul khitan (sunatan) guna mengucapkan selamat.Dalam perkembangan selanjutnya, kondangan tidak sekedar menghadiri dan berucap salam semata saja, tetapi juga disertai dengan pemberian hadiah baik berupa barang ataupun uang. Sehingga kondangan identik dengan pemberian uang. Namun proses pemberian uang ataupun hadiah ini tidak ditata sedemikian rupa, terutama dalam walimatul khitan. Sehingga terjadi ketidak jelasan apakah kondangan ini ditujukan kepada anak ataukah orang tuanya.

    Dalam hal ini fiqih memberikan aba-aba bahwasannya jikalau ada indikasi hadiah tersebut ditujukan kepada anak atau jelas diterangkan untuk anak, maka baiknya bapak segera menghindar dari hadiah tersebut. Misalkan hadiah berupa baju koko atau sarung tentunya indikasi kuatnya untuk dia yang disunat. Akan tetapi jika pemberian tidak ditentukan dan tidak ada indikasi untuk anak, maka itu adalah milik orang tua begitu disebutkan dalam Raudhatut Thalibin

    قلت قطع القاضى حسين فى الفتاوى بأنه للإبن وأنه يجب على الأب أن يقبلها لولده فإن لم يقبل أثم

    Qadhi Husain di dalam fatwanya berpendapat bahwa sannya hadiah itu untuk anak, dan wajib bagi orang tua menyampaikan kepadanya, jika tidak maka orang tua itu akan berdosa.

    Namun demikian Raudhatut Thalibin masih memberi peluang kepada orang tua untuk mengatur segala pemberian tersebut, dan memberikan kekuasaan penuh kepadanya. Hal ini didasarkan pada pendapat Abu Ishaq as-Syirazi

    وفى فتاوى القاضي أن الشيخ أبا إسحاق الشيرازي قال تكون ملكا للأب لأن الناس يقصدون التقرب اليه وهذا أقوى وأصح والله أعلم

    Abu Ishaq as-Syiarazi berpendapat bahwa hadiah itu adalah milik orang tua, karena seseungguhnya orang-orang itu lebih dekat kepadanya.

    Sebenarnya hal ini bisa dijembatani dengan cara menjelaskan sejelas-jelasnya bahwa hadiah (uang kondangan, kado) adalah untuk anak atau orang tuanya. Kalaupun selanjutnya si penerima menghibahkan kembali pemberian itu kepada orang tua/ anak adalah masalah lain lagi.

    Redaktur: Asma Wijaya Rt.09

  9. “Pembagian Dzikir”

    Peringkat dzikirullah itu ada yang diucapkapkan atau lafadzkan dengan mengeraskan suara ada pula yang hanya dengan suara hati, namun sebagai pemula atau tingkat latihan sebaiknya gunakan cara lafadz atau mengeraskan suara.

    Setelah itu Dzikrullah akan merayap naik tingkat demi tingkat keseluruh diri kita hingga turun ke hati, ke ruh atau menjiwa, yang akhirnya masuk ke peringkat rahasia. Dari tingkat rahasia ini akan terus bergerak menuju tingkat paling rahasia, yaitu Rahasia dalam Rahasia ( sirr al-Asrar ). Namun semua tingkatan terletak pada Karunia dan izin Allah Swt, karna Dialah yang berhak menentukan_Nya.

    Dzikirullah yang hanya di lafadz kan oleh lisan, merupakan manifestasi dari hati agar tidak mudah melupakan Allah Swt. Bila Dzikir senyap (sunyi) atau dzikir hati merupakan pergerakan emosi atau perasaan, yaitu rasa tentang pendhohiran keagungan dan keindahan Allah Swt.

    Sedangkan dzikir ruh lahir melalui Nurullah ( Cahaya Allah ) yang dipancarkan oleh keagungan dan keindahan Allah Swt. Dzikir peringkat rahasia lahir melalui Dzawq yang dirasakan dari hasil melihat rahasia-rahasia Allah Swt. Dzikir peringkat rahasia bagi segala rahasia (sirr al-Asrar) akan membawa kita pada pengertian ayat ini :

    فى مقعد صدق عند مليك مقتدر

    “ Di tempat yang disenangi di sisi Tuhan yang berkuasa.”

    Dzikir peringkat terakhir adalah dzikir Khafiy al-Akhfa’, yaitu yang paling dalam dan paling tersembunyi. Dzikir ini akan membawa kita ke peringkat perasaan fana’ atau lenyap diri dari perasaan dan berpadu dengan Allah Swt.

    Pada hakikatnya tidak seorang pun, kecuali Allah yang mengetahui keadaan seseorang yang telah memasuki peringkat itu, yang di dalamnya terkandung semua ilmu. Di situlah ujung atau penambat segala dan setiap seuatu.

    Firman Allah Swt :

    يعلم السر واخفي

    “ Dia mengetahui yang rahasia dan yang lebih tersembunyi .” ( QS. Thaha:7 )

    Demikianlah peringkat-peringkat dzikir yang kami sebutkan disini, semuanya itu hanya merupakan pendekatan agar kita dapat memahaminya. Namun hakikat Dzikir tidak dapat diketahui, kecuali dapat dirasakan saja.

    Wallahu A’lam
    Terulas dari kitab “ Sirr al-Asrar Fima Yahtaj Ilayh al-Abrar “,
    As-Syekh Abu Muhammad Abdul Qadir al-jilani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 246 other followers

%d bloggers like this: